Friday, December 4, 2015

Cinta

Cinta itu memberi.
Cinta itu ngga menuntut.
Simpel memang.
Tapi jadi ngga simpel dalam pelaksanaannya. Berusaha selalu memberi dan tidak menuntut bukanlah hal yang ringan. Gemana ngga berat? lha wong setiap manusia di dalam dadanya diberi sebuah ujian berupa suara yang mengaum bernama nafsu yang lahir dari egonya.
Sebenarnya, pada awalnya ego itu masih berupa bayi. Bagaimana cara perlakuan ego itu, setiap individulah yang menjadikan ego itu berubah menjadi nafsu yang mengaum seperti singa yang buas atau mengeong seperti kucing yang imut.
Apa maksudnya itu?
Semua pendidik yang bernama orang tua, berasal dari daerah dan jenis ras apapun, berkeyakinan apapun, semuanya sedari dini mengajarkan balita2 mereka untuk saling menyayangi, saling berbagi dan saling menghormati. Artinya, para pendidik sebenarnya mengajarkan pada anak-anak balita mereka untuk "belajar" menginjak ego mereka.
Menginjak? sakit dong?!  mana ada diinjak ngga sakit?! Plis, yang bener aja doong..!
hey, ngga usah misuh-misuh gitu ah..
Baiklah, kalo ngga sepakat dengan menginjak, kita ganti dengan kata yang lebih lembut deh : mengendalikan. Masalahnya adalah saat mengendalikan ini, kita cenderung tidak mau kejam pada diri sendiri. Kita manusia punya kecenderungan untuk memanjakan diri sendiri. Akhirnya pengendalian ego yang tidak kejam ini tentu saja menjadi pengendalian yang bersifat longgar. Pengendalian yang longgar ini membuat ego dapat tumbuh subur dan pesat menjadi sebuah kekuatan yang besar, sekuat singa yang mengaum menyeramkan.
Terus memangnya kenapa dengan singa? Apa yang salah dengan singa?
Tentu saja salah! Singa buas yang merajai nafsu kita, membuat pribadi kita menjadi ciut tak punya nyali. Kita menjadi budak dari ego dan nafsu sendiri. Singa inilah yang menghasilkan titik noda hitam di hati kita. Satu titik, lalu satu titik, dan satu titik, dan titik-titik lainnya lagi, yang akhirnya titik-titik hitam itu memenuhi hati kita, hingga sebagian hati kita memiliki warna legam menggantikan warna bening aslinya.

Hati yang bersihlah yang akan menerima dan memberi cinta. Hati yang beninglah yang akan mempersembahkan cinta yang tulus.
Gemana caranya untuk bisa punya hati yang bersih?
Belajarlah untuk menginjak ego kita. Sakitkah? Tentu saja untuk pertama kali itu akan terasa sakit. Amati saja dua orang balita yang main bersama yang menginginkan satu mainan yang sama. Saat satu balita imut itu dilatih orang tuanya untuk menginjak egonya, dia menangis ketika ibunya menuntun tangannya untuk mau meminjamkan mainannya pada temannya. Hatinya meraung tidak rela. Tapi dengan spontan ibunya memberikan senyuman, mengusap kepala dan punggungnya untuk menyemangati anaknya agar mau berbagi. Senyum dan sentuhan sang ibu itu  si balita lucu itu menjadi obat rasa sakit di dalam dada si balita, sehingga akhirnya walaupun masih ragu, balita itu mau dibimbing tangannya untuk mengarahkan mainannya pada temannya dan melonggarkan genggaman tangannya pada mainan yang menarik itu lalu kemudian melepaskannya.
Itulah pelajaran pertama.
Lalu pelajaran kedua, ketiga dan seterusnya akan berlanjut dengan dan tanpa bimbingan orang tua lagi. Saat tak ada orang tua lagi di samping kita itulah, kita harus berusaha menguatkan hati untuk mau terus berlatih untuk menekan hasrat, tidak melepaskanya bebas sesukanya.

Balik lagi ke masalah cinta, apa sih hubungannya cinta dengan keegoisan?
Tentu saja erat kaitannya, apalagi kalo kita kembalikan pada premis di atas tadi : cinta itu memberi, dan bukan menuntut. Lalu sudahkah kita memberikan cinta pada orang lain? Cari tahulah: kepada siapa kita sudah memberikan cinta kita?
Panduannya gampang aja kok : Cinta itu membuat bahagia. Tapi waspadai, bahagia seperti apakah yang kita punyai itu?
Test kecil-kecilan bisa kita tanyakan pada hati kita sendiri. Ada dua test sederhana yang bisa kita jawab.

Test ke-1:
  • Sudahkah kita memberi perhatian pada orang yang katanya kita cintai? Atau... ternyata kitalah yang merasa bahagia karena sudah diberi banyak perhatian olehnya.
  • Sudahkah kita membahagiakan orang yang katanya kita cintai? Atau.... ternyata kita merasa bahagia karena orang yang kita cintai itu berusaha membahagiakan kita?
  •  Sudahkah kita berusaha mengerti perasaan, harapan, cita-cita, keadaan, kesulitan orang yang katanya kita cintai? Atau... ternyata kita merasa bahagia karena orang terkasih kitalah yang sering mengerti perasaan, harapan,cita-cita, keadaan dan kesulitan kita.
Well, cuma dari 3 poin sederhana saja, kita sebenarnya sudah bisa menggambarkan secara selintas, apakah kita sudah bisa mencintai apa belum, dan siapa sih yang sebenarnya kita cintai itu.
Kalau dari test sederhana itu itu jawabannya adalah kita adalah orang yang banyak memberikan, maka
alhamdulillah... selamat, Anda memiliki cinta.
Tapi, kalau ternyata jawabannya adalah kita banyak diberi, maka kita harus menyadari bahwa kita lebih mencintai diri kita sendiri (baca: keegoisan diri) daripada mencintai orang yang katanya kita cintai.

Test ke-2 :
Apa yang Anda katakan pada orang yang katanya kita cintai setelah kita memberikan sesuatu padanya secara habis-habisan :
  1. "Maafkan saya, saya baru bisa memberikan yang seperti ini. Sebenarnya saya ingin memberikan sesuatu yang lebih besar, lebih baik dan lebih banyak lagi padamu."
  2. "Duh, kurang apa lagi saya ini, coba? Segala daya upaya udah saya berikan buat kamu."

Well, lagi-lagi walaupun berat hati, saya tetap akan mengingatkan Anda semua :
kalau jawabannya adalah nomer 1, maka bersyukurlah karena Anda sudah belajar memberikan cinta. Karena berdasarkan premis bahwa cinta itu memberi, maka setelah kita memberikan segala yang kita punya, kita akan terus ingin memberi dan memberi. Alhamdulillah, selamat, ini adalah karunia dari Allah SWT.
Bila jawaban Anda adalah no.2, maka terimalah dengan lapang dada. Hasil jawaban ini menunjukkan bahwa kita hanya mencintai diri sendiri. Tentu saja Anda mencintai orang yang Anda cintai, tapi dalam hal ini kecintaan Anda pada diri sendiri lebih besar daripada kecintaan Anda padanya.

Lalu, bagaimana bila ternyata kita bersedih mendengar jawaban orang terkasih kita menunjukkan bahwa dia lebih mencintai dirinya sendiri ketimbang mencintai kita?
Jangan putus asa dulu, sobat. Tenang, ada Allah yang bisa menyelesaikan semua masalah tanpa kecuali.
Cinta adalah masalah hati, dan pemilik seluruh rahasia hati adalah Allah.  Allah-lah yang membolak-balikkan hati setiap insan,membuat dan  menggerakkan setiap hati insan untuk menyukai atau bosan, membuatnya mencintai atau membenci.
Jadi saat cinta dari orang yang kita kasihi terasa memudar, maka jangan kejar dia, karena dia hanya manusia yang lemah.
Kejarlah cinta Allah, mendekatlah pada-Nya. Mintalah padanya agar membuka hati orang yang kita cintai, dan mengerakkannya agar mencintai kita lagi. Insya Allah.